Sunnah Kelahiran


Kelahiran anak manusia merupakan sunnatullah yang harus kita syukuri. Kelahiran adalah perkara yang natural, fitrah, dan manusiawi. Islam sebagai agama fitrah, mengiringi semua peristiwa yang terjadi pada manusia termasuk kelahiran. Di antara bagian Islam dalam kelahiran adalah sunnah yang telah dicontohkan oleh teladan terbaik manusia, Muhammad SAW. Berikut beberapa sunnah yang terkait dengan peristiwa kelahiran.

  1. Mengumandangkan Adzan di telinga kanan

Disunnahkan bagi orang tua bayi untuk mengumandangkan adzan pada telinga kanan bayi yang baru lahir dan mengumandangkan iqamah pada telinga kiri bayi seperti iqamah ketika akan didirikan sholat.

Dari Abu Rafi’ berkata: saya telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan adzan di telinga Hasan bin ‘Ali ketika ibunya, Fathimah radhiyallahu ‘anha telah melahirkannya dengan adzan sholat.[1]

Hal ini dimaksudkan agar perkataan yang pertama kali didengar oleh bayi adalah nama Allah Azza wa Jalla. Dengan tujuan sesuatu yang pertama kali menyentuh selaput gendang telinga bayi adalah pemberitahuan tentang tauhid, mengesakan Allah sesuai dengan kalimat syahadat yang ada dalam adzan. Dengan adzan juga dapat menyingkirkan setan dari bayi karena setan akan pergi ketika mendengar suara adzan seperti yang disebutkan dalam hadist.

Adapun mengenai iqamah di telinga kiri bayi mempunyai hadist yang lemah, namun demikian ada beberapa ulama yang memakainya. Diantaranya An Nawawi yang menyebutkan dalam al Adzkar dan juga Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah. Seperti hadist Ibn Sunni yang diriwayatkan dari Hasan bin ‘Ali secara marfu’: Barang siapa melahirkan seorang bayi hendaklah ia adzan di telinganya yang kanan dan iqamah di telinga kiri, maka tidak membahayakannya Ummu Shibyan. Dan hadist dari Ibn ‘Abbas: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan adzan di telinga Hasan bin ‘Ali pada hari ia dilahirkan, dan iqamah di telinganya yang kiri.[2] Allahu a’lam.

  1. Mendoakan Bayi

Disunnahkan juga mendoakan bayi dengan membaca doa dalam Al Qur’an seperti yang dibaca oleh istri ‘Imran ketika lahirnya Maryam binti ‘Imran.

…وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (٣٦)

… dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”[3]

Menguatkan adzan yang telah dikumandangkan, doa ini juga menjadi benteng dan meminta perlindungan untuk bayi dan keturunannya kepada Allah Azza wa Jalla dari setan yang mengganggunya. Karena setiap bayi yang lahir akan diganggu setan sehingga bayi itu menangis karena gangguannya kecuali Maryam dan putranya.[4] Menurut Dr. Wahbah bin Musthofa Az Zuhaili meskipun bayi yang lahir adalah laki-laki maka dhamir (kata ganti) yang digunakan tetap menggunakan “ha” kata ganti untuk perempuan, karena untuk bertabarruk (mengambil barokah) dengan lafadzh ayat dan berdasar asal bacaannya.[5]

Atau dengan doa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau baca untuk melindungi Hasan dan Husain ibn ‘Ali radhiyallahu ‘anhum sebagaimana Nabi Ibrahim melindungi Isma’il dan Ishaq ‘alaihumussalam dari setan, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas

أعوذ بكلمات الله التامة من كل شيطان وهامة ، ومن كل عين لامة

Aku mohon perlindungan dengan kalimat Allah yang paripurna dari godaan setiap setan dan binatang, serta dari setiap sihir ‘ain yang tajam.[6]

Termasuk dalam pembahasan ini adalah meminta orang shalih untuk mendoakan bayi. Seperti yang dilakukan oleh Asma’ binti Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma yang ketika melahirkan ‘Abdullah bin Zubair, ia membawanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau men-tahnik-nya dan mendoakan barokah baginya. Hal semacam ini juga dilakukan oleh Abu Musa al Asy’ari ketika putranya lahir ia membawanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kemudian diberi nama Ibrahim, di-tahnik dengan kurma, dan didoakan keberkahan baginya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[7] Dan meminta orang shalih untuk mendoakan bayi biasanya bersamaan ketika memintakan orang shalih untuk men-tahnik bayi.

  1. Tahnik

Adalah mengunyah atau memamah kurma hingga lembut kemudian memasukkannya ke mulut bayi dan menggosok-gosokkannya ke langit-langit mulut bayi untuk menguatkannya. Apabila tidak ada kurma maka dengan makanan yang manis. Dahulu, para sahabat radhiyallahu ‘anhum meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk men-tahnik bayinya dan mendoakan keberkahan kepadanya seperti telah dijelaskan pada hadist Asma’ binti Abu Bakr dan Abu Musa al Asy’ari di atas. Dari hadist tersebut bisa difahami bahwa men-tahnik dan mendoakan bayi bisa meminta orang shalih untuk melakukannya. Apabila orang tuanya sendiri yang melakukan, maka tiada mengapa.

  1. Tahniah (ucapan selamat)

Bagi orang lain baik itu tetangga, kerabat, saudara, dianjurkan untuk mengucapkan tahni’ah kepada orang tua bayi dengan ucapan

بارك الله لك في الموهوب لك، وشكرت الواهب، وبلغ أشده، ورزقت بره

Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu atas (karunia) yang telah diberikan kepadamu, semoga engkau bersyukur kepada Yang Maha Pemberi hingga (anak) sampai pada kedewasaannya dan memberikan baktinya kepadamu.

Dan bagi orang tua bayi menjawab dengan ucapan

بارك الله لك ، وبارك عليك ، وجزاك الله خيرا ، ورزقك الله مثله ، أو أجزل الله ثوابك

Semoga Allah memberkahimu dan keberkahan selalu atas dirimu, semoga Allah membalas kebaikan yang banyak kepadamu dan memberikan (karunia) yang sama kepadamu, dan semoga Allah melipatgandakan pahalamu.[8]

Atau ucapan-ucapan yang semisalnya.

  1. Mencukur Rambut Bayi

Mencukur rambut dapat menghilangkan gangguan di kepala dan kotoran yang menempel baik kotoran yang najis atau suci. Dan agar berganti rambut yang lebih kuat dari pada rambut yang lama. Manfaat lainnya adalah dapat membuka pori-pori kulit kepala hingga uap air bisa keluar dengan mudah, serta dapat menguatkan indera.

Mencukur rambut disunnahkan dilaksanakan pada hari ketujuh dari kelahirannya bersamaan dengan penyembelihan hewan aqiqah dan diberikan nama untuk bayi berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu.

  1. Bershadaqah

Kadar atau jumlah shadaqah yang dikeluarkan adalah dengan emas atau perak seberat timbangan rambut bayi yang telah dicukur. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Fathimah mencukur rambut Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhum dan bershadaqah dengan perak seberat rambut yang telah dicukur. Dr. Wahbah bin Musthofa Az Zuhaili menqiyaskan perak dengan emas.

  1. Memberi nama yang baik.
  2. Aqiqah
  3. Khitan

Pustaka:

Zaadul ma’ad

[1] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dishahihkan oleh keduanya, dalam riwayat Ahmad: Husain bin ‘Ali.

[2] Diriwayatkan oleh Baihaqi sebagaimana meriwayatkan hadist sebelumnya.

[3] Surat Ali ‘Imran (3) ayat 36.

[4] Hadist diriwayatkan Bukhari no. 4548 dan Muslim no. 2366

[5] al Fiqh al Islam wa Adillatuhu, Dr. Wahbah bin Musthofa Az Zuhaili.

[6] Disebutkan dalam Hishnul Muslim, Said bin ‘Ali bin Wahf al Qahthani dengan lafadzh أعيذكما

diriwayatkan oleh Bukhari no. 3371

[7] Keduanya disebutkan oleh Imam An Nawawi dalam Al Adzkar diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dalam hadist kedua Imam Muslim tidak menggunakan “dan mendoakan keberkahan baginya”.

[8] Disebutkan oleh Imam An Nawawi dalam Al Adzkar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s