Masjid Raden Patah


Tulisan di bawah ini merupakan buah pikiran dari akhwat (gtw siapa, lupa kepada siapa tugas ini diembankan :)) takmir Masjid Raden Patah UB. Karena filenya ada di komputer saya, maka saya copas saja, toh tujuan awal tulisan ini disusun adalah untuk memberikan gambaran tentang kondisi Masjid Raden Patah dari dalam yang ketika itu dianggap ‘aneh’ oleh sebagian orang.

Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya Malang

 

 

Bismillahirrohmaanirrohiim

Terdapat sebuah bangunan aneh yang menarik perhatianku, saat pertama kali ku injakkan kakiku di kampus mungil brawijaya.bangunan itu mengingatkanku akan aquarium dirumah,setelah bertanya kesana kemari pada mbak2 yang lalu lalang disitu,kutahu ternyata bangunan antic itu bernama masjid raden patah. Yah sebuah bangunan yang sederhana yang akhirnya tanpa terasa menjadi tempat persinggahan utama dan pertama selama saya menjalani kuliah di brawijaya..
Gabung sama teman2 dari berbagai fakultas ngurusi masjid raden patah, bagiku…. kesempatan itu adalah sebuah nuansa terindah yang mewarnai perjalanan panjang waktu hidupku dan kini tak terasa telah 9 tahun sejak saya mulai menginjakkan kaki di malang ini,dan ternyata di waktu2 itulah dengan kesadaran yang sesadar sadarnya hati saya telah benar2 terikat dengan semua yang ada di raden patah. Sebuah masjid yang tak pernah sepi dari hilir mudik dinamika pembinaan jama’ah, mulai dari urusan hilangnya sandal jepit sampai pergolakan dan dinamika perjalanan dakwah di brawijaya. masjid yang terasa indah dari setiap sudutnya meski masjid ini bangunannya terlihat biasa2 saja, memang pada kenyataannya masjid ini tidak disibukkan dengan pembangunan fisik berbeda dari kebanyakan masjid yang ada. Kebersamaan, persaudaraan ,pembicaraan2 tentang ilmu smua ada disana dan kini kerinduan akan waktu2 itu telah mengusik dadaku, lahirlah sebuah kerinduan yang amat sangat pada saudara2ku dimana tempat inilah saya belajar bersama2 mereka belajar bagaimana mencintai ALLOH dan ROSSULNya adalah di atas segalanya, belajar menumbuhkan idealisme dalam mengemban tugas sebagai mahluq yang mendapat amanah sebagai kholifah fil Ard, tempat belajar bagaimana mengukur kebahagiaan dari sejauh mana diri ini bermanfaat bagi mahhluq lain, tempat dimana bisa menumpahkan segala kesuh kesah tanpa takut untuk direndahkan, tempat menghimpun kesadaran tuk mengenal bagaimana nikmatnya ikhlas, nikmatnya mengabdi hanya kepadaNYa dan nikmatnya mencintai dan membenci hnya KARENANYA.rindu ya Robb.. saya ingin lagi merasakan hari2 itu kembali dan berulang lagi, pada hari ini dan hari selanjutnya,sampai batas umur yang Engkau anugerahkan padaku……….
Koq gini c…tulisane koyo’ buku diary…………

Nulis maneh ahhh…………
Mumpung dipercaya nulis, apalagi nulis tentang masjid yang telah membuatku jatuh cinta, yang telah membuatku belajar hidup dalam kesadaran dan keyakinan untuk terus mengabdi pada Sang pemilik langit dan bumi ini…………

Tidak semua orang yang pernah tinggaldan lewat di brawijaya mengenalnya. Sebuah bangunan sederhana terletak di sudut brawijaya dengan berbagai detilnya, kelihatan agak kurang teratur,namun tetap membuat kerasan siapa saja yang berkesempatan singgah disana. Posisinya memang tidak begitu strategis hanya di pinggiran kampus, sehingga tidak smua civitas brawijaya bisa mencapainya tanpa ngos-ngosan kecuali bagi mereka yang memang bernyali luar biasa. Karena meski disebut masjid kampus suara adzan dan iqomqhnya tidak mampu menembus dinding2 gedung perkuliahan dan perkantoran seantero kampus brawijaya sehingga setiap muslim yang menyebar di fakultas2 sekitar masjid tidak ikut menikmati alunannya yang mampu menggugah jiwa2 yang lelah dan lunglai.Bangunan yang kita kenal dari dulu hingga detik ini dengan sebutan Masjid raden patah tak pernah sepi dari untaian cerita dalam berbagai episode pergolakan perkembangan dan pemikiran islam di kampus brawijaya..Lantai putihnya yang tampak selalu bersih,dan dingin seakan menawarkan pada siapa saja untuk merebahkan badannya setelah melalui kepenatan perkuliahan yang selalu terasa panjang dan membosankan. Rentetan bangunan yang sambung menyambung identik sekali dengan Indonesia yang mendapat julukan Negara agraris dengan jejeran kepulauannya yang selalu dirundung bencana. Lapangan rumput yang tidak begitu luas namun cukup menambah keasrian menghiasi sudut masjid memorial ini. Meski dibeberapa sudut, terlihat tembok yang mulai menghijau diterjang bergulirnya zaman, namun tetap saja dinamika kejamaahan mengalun pasti dan mengakar kuat di masjid ini. Dari urusan sandal jepit, sampai dinamika perpolitikan Negara yang tiap detik mengalami perkembangan yang mencengangkan smua terbahas dalam obrolan2 ringan di sekitar serambi masjid,tak banyak memang yang menyadari arti pentingnya leyeh2 di masjid,namun bagi sebagian orang yang masih memiliki nurani bersih pasti merasakan bahwa situasi itu adalah kebutuhan pokok setiap jiwa yang tiap detiknya selalu dihadapkan dengan tetek bengek dilematika social kehidupan yang berkepanjangan tanpa tahu apa dan bagaimana berakhirnya…. sebuah masjid dengan seluruh komponennya merupakan sebuah konsep ilahi yang keberadaannya mau tidak mau, setuju tidak setuju harus tetap ada dan selalu dijaga kesakralan dan kesinambungannya, demi sebuah keberlanjutan kehidupan.

Di masjid ini juga Nafas2 perubahan senantiasa berhembus menjadi sebuah kekuatan yang patut diperhitungkan oleh siapa saja yang hanya mempunyai nyali duniawi. Dalam perjalanan panjangnya masjid raden patah, telah mencatat banyak peristiwa peradaban yang patut direnungkan dan menjadi ibroh bagi siapa saja yang tergabung dalam barisan dakwah di kampus ini.Sebuah visi besar yang di usungnya telah membakar dada2, telinga2 dan harga diri banyak pihak yang hanya mengenal masjid dari permukaanya.

Seiring dengan perkembangan dakwah di dunia2 islam, terutama gejolak timur tengah telah berperan besar dalam menggugah semangat darah2 muda aktivis kampus brawijaya untuk mengambil bagian menjadi pelaku sejarah, sebagai pejuang agama ALLOH SWT , menegakkan kalimahNya. Atas nama perjuangan inilah berbagai aktivitas keislaman mulai digagas. Berbagai forum kajian mulai menjamur di berbaga fakultas. Tak ubahnya anak ayam, meski dia mampu mencari makan sendiri tetap saja membutuhkan induk, sekali lagi atas nama ‘untuk keberlanjutan sebuah kehidupan”.Begitupun dengan aktivitas keislaman yang mulai tumbuh di brawijaya, dimotori oleh beberapa dosen, mahasiswa dan pegiat2 dakwah di sekitar kampus di jadikanlah masjid raden patah sebagai pusat pembinaan islam. Berbagai model produk dakwah ditawarkan, mulai dari pagelaran seni islam, bazaar kampus, pameran2 busana muslim, pembenahan BTAQ {Baca Tulis Al’Quran}, perpustakaan islam keliling, dan mentoring. Acara yang paling menonjol diantaranya adalah mentoring, sebagai salah satu acara yang di cetuskan bersama untuk mengenalkan islam yang kaffah pada mahasiswa baru, program ini telah berhasil memberikan andil yang besar dalam membangun dinamisasi dakwah kampus. Sebagai jalan tol masuknya berbagai jama’ah dakwah, dengan dikomando para aktivis UAKI ( Unit Aktivitas Kerohanian Islam) bekerjasama dengan pengurus SKI (Sie Kerohanian Islam )fakultas, dimulailah kegiatan mentoring . Pada awalnya semua pihak baik dari mahasiswa dan birokrasi { pejabat rektorat dan dosen2 agama}semua mendukung acara ini. Dalam tiap harinya masjid dipenuhi mahasiswa yang berdesakan mengikuti perkuliahan mentoring, gegap gempita diskusi, Tanya jawab dan pendampingan para mentor2 terpilih semakin hari menunjukkan kegairahan yang menyeruak kebisuan pintu2 ilmu yang sekian waktu telah tertutup. Tak urung pula, pucuk di cinta ulampun tiba, perubahan wajah dunia islam mampu terwakili dengan hadirnya berbagai komponen dakwah yang dengan kekuatan seadanya memberi sebuah perubahan pada wajah brawijaya, para aktivis dakwah kampus semakin berlimpah, pemahaman akan ajaran2 yang termaktub dalam ALQur’an dan assunnah mulai dinampakkan di iringi dengan keberanian menampilkan wajah islam di tengah peradapan yang semakin berani unjuk gigi. Jilbab2 besar bertaburan dimana2, muslimah2 bercadar, pemuda2 berjenggot dan bercelana cingkrang bertebaran di setiap sudut kampus. Menjadi sebuah kebanggaan bisa menjadi bagian dari perbaikan beragama meskipun prosentasenya belum mampu mendominasi smua komponen yang hidup di kampus brawijaya. Dengan sebuah cita tuk mewujudkan islam kaffah mulai mencoba menterjemahkan kalam2 Illahi dalam kehidupan sehari2, menikmati indahnya berukhuwah, menikmati kesegaran berlama2 duduk di majlis ilmu, menikmati ketenangan hakiki dengan memperpanjang sholat, mendengarkan alunan bacaan murottal , mengkaji berbagai disiplin ilmu dari berbagai versi, mengurai konflik2 sosial, sampai menyusun aksi pemberantasan korupsi dan kemiskinan smua di tujukan untuk membingkai islam dalam kesejukan yang harmonis seiring perkembangan zaman yang semakin remang2. Dalam keteraturan yang semakin memuncak, mulailah badai itu menghampiri, satu persatu komponen itu terurai, namun kita semua harus sadar bahwa meskipun badai menerjang niat harus tetap kokoh, karena kehidupan tanpa tantangan adalah kehidupan yang tak layak untuk kehidupan seorang ksatria dakwah.

Demi eksistensi sebuah keyakinan, meski dengan merangkak, bermandi peluh semua akan dikejar dan diperjuangkan sampai titik tinta yang terakhir.. Di tengah dilematis social, adanya perubahan akan melahirkan perhelatan di tengah khalayak ramai. Sesuatu yang memang seharusnya diamalkan dalam kehidupan setiap hari menjadi terasing dan bahan hujatan yang berkepanjangan. Selalu ada yang ingin menangkal perubahan, dan yang patut disayangkan penyulutnya adalah dari kalangan intern umat islam sendiri, kondisi itu didukung akibat kurangnya ilmu, macetnya komunikasi dan informasi, peta politik kampus serta sikap anti pati terhadap adanya perubahan. Ditambah dengan propaganda kaum kafir melalui berbagai media massa dan media elektronika bersatu padu menepis gelombang perubahan dalam ketidaktahuan yang terus bertahan. Dampak fatal kondisi tersebut adalah bercerai berainya barisan pejuang dakwah yang telah tersusun rapi, membentuk shof2 baru yang mengatas namakan “keutuhan pemahaman dan kesatuan ide”, hingga saat ini belum ada solusi formal untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan ini.

Di tengah pergolakan yang terus berkobar ini, komponen aktivis masjid raden patah mencoba menggulirkan nafas2 perubahan sebagai solusi konflik internal dakwah di kampus brawijaya. Mulailah di bentuk halaqoh2 khusus maupun umum, guna menghimpun jiwa2 yang terus menderu merindukan lahirnya kesatuan umat yang mengatasnamakan ukhuwah, kebersamaan, netral tapi tetap menjunjung profesionalitas dakwah. Tak banyak yang paham memang dengan deburan konsep ini, ada pihak yang merasa terpinggirkan, tak terfasilitasi, kecewa, curiga bahkan menentang keras untuk diadakan revolusi. Semua reaksi itu kemungkinan timbul dari rasa kepemilikan bersama atas keberadaan masjid raden patah. Sebagai masjid yang sangat luar biasa, harapan umat sebagai cikal bakal tumbuhnya kejayaan islam bisa dimulai dari masjid ini.

Dengan mengalirnya gelombang kebebasan untuk aktivitas di kampus brawijaya, semakin membuka pintu2 untuk melancarkan ide2 dakwah dalam setiap jenjang kehidupan kampus. Dengan Raden patah sebagai pusat berkembangnya idealisme, maka tongkat estafet perjuangan untuk mempersatukan kepentingan dakwah tetap terfasilitasi. Berbagai gerakan yang telah berkembang, mencoba untuk diwadahi dengan tujuan terbentuk harmonisasi dakwah yang seimbang dan dinamis. Tahap demi tahap keselarasan diperjuangkan, namun sunnatulloh tetap berjalan tak ada perjalanan kehidupan yang tanpa aral melintang . Bergulirlah issue2 jalanan tentang hadirnya kelompok2 radikal, aliran sesat, hegemoni satu golongan, korupsi internal, pemanfaatan fasilitas masjid oleh oknum2 takmir sampai penggunaan dana masjid untuk kepentingan pribadi.

6 thoughts on “Masjid Raden Patah

    1. Bukan dirobohkan, sejak beberapa tahun yang lalu hingga kini Masjid Raden Patah UB sedang dalam tahap renovasi, bangunan yang lama memang dirobohkan, rata dengan tanah tak bersisa mungkin karena bangunannya sudah tua atau karena banyak pemikiran dan ide-ide yang ingin dirobohkan beserta dengan bangunannya, untuk sementara kegiatan kemasjidan dan peribadahan ditempatkan di gedung SC (Student Center) yang disulap bak sebuah masjid sementara (teman-teman menyebutnya masjid SC), di saat yang sama bangunan masjid yang baru sudah mulai dibangun di lokasi masjid yang lama dengan bentuk dan arsitektur yang tentunya jauh berbeda dengan masjid yang dulu, namun hingga saat ini bangunan yang baru belum juga rampung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s