Skip to content

Lalai dari Sholat

April 15, 2012

“… Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, …” Al Maa’uun (107): 4 – 6

Dalam ayat tersebut, siapakah yang dimaksud dengan orang yang lalai dari sholatnya? Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan menurut Ibnu Abbas bahwa mereka adalah orang-orang munafik yang mereka sholat ketika ramai orang banyak dan mereka meninggalkan sholat ketika dalam keadaan sunyi tidak dilihat orang.Dalam pengertian yang lebih luas, lalai dalam sholat bisa diartikan lalai dalam waktu pelaksanaan sholat, lalai dengan syarat dan rukunnya, dan lalai dalam menghadirkan kekhusyukan di dalamnya.

Lalai dalam waktu pelaksanaan sholat maksudnya adalah seseorang melalaikan waktu utama dalam melaksanakan sholat yaitu pada awal waktu. Ia selalu melaksanakan sholat pada akhir waktunya tanpa adanya udzur syar’i. Termasuk juga di dalamnya yaitu mengerjakan sholat di luar waktu yang telah disyari’atkan. Bahkan ia tidak mengerjakan sholat sama sekali ketika waktu sholat telah berlalu. Seseorang lebih disibukkan dengan perkara lain sehingga ia lalai dengan waktu sholat kemudian meninggalkannya.

Lalai dengan syarat dan rukun dalam pelaksanaan sholat; seseorang mengerjakan sholat tidak memenuhi syarat dan rukunnya. Ia melaksanakan sholat bagaikan ayam mematuk makanan, tidak ada ketenangan (thuma’niinah) di dalamnya. Ia melaksanakan sholat tanpa memperhatikan syarat dan rukunnya seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal beliau menyuruh kita sholat seperti sholat beliau, sebagaimana sabdanya “sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku (Nabi) sholat[1]”. Di sinilah pentingnya ilmu untuk mengetahui bagaimana Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendirikan sholat. Termasuk di dalamnya adalah memperbagus wudhu untuk melaksanakan sholat sebagai syarat sah sholat.

Lalai dalam menghadirkan khusyu’ dalam sholat; khusyu’ adalah menghadirkan rasa takut (khosyyah) kepada Allah Azza wa Jalla di dalam hati dan menampakkannya dengan perbuatan. Khusyu’ dalam sholat bisa digapai dengan hadirnya hati, memahami dan mentadabburi bacaan yang ada di dalam sholat. Pandangan diarahkan menuju ke tempat sujud. Sedangkan lalai dalam menghadirkan khusyu’ jauh dari hal-hal yang demikian. Hati orang yang lalai dalam sholatnya dipenuhi dengan perkara di luar sholat, pikirannya pun demikian. Bacaan di lisannya tidak dapat ia pahami maknanya dan tidak bisa ditadabburi.

Jika ketiga maksud lalai tersebut ada pada diri seseorang dalam sholatnya, maka orang tersebut telah melakukan kemunafikan (munafik amaliy). Seperti yang disabdakan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa yang demikian itu adalah sholatnya orang-orang munafik yang mereka mengerjakan sholat pada waktu yang dimakruhkan untuk melaksanakan sholat, mereka melaksanakan sholat seperti mematuknya burung gagak, tidak ada ketenangan dan kekhusyukan di dalam sholatnya[2].

Dalam surat An Nisaa’ (4): 142 dijelaskan pula bahwa ketika orang-orang munafik mengerjakan sholat mereka mengerjakannya dalam keadaan malas, tidak ikhlas hanya mengharapkan agar dilihat manusia (riya), dan tidak ada kekhusyukan di dalamnya, dan mereka tidak memahami apa yang diucapkan.

Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan dalam hadistnya bahwa sholat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah sholat Isya’ dan sholat Shubuh. Hal ini disebabkan karena mereka riya dalam sholatnya. Sholat Isya’ waktunya adalah ketika sebagian malam telah berlalu. Sholat Shubuh waktunya adalah di penghujung malam. Pada waktu-waktu yang demikian sedikit manusia yang berlalu-lalang, sedangkan orang munafik mereka sholat karena mengharap untuk disaksikan oleh manusia.

Kita memohon perlindungan kepada Alla Azza wa Jalla dari sifat yang demikian. Selayaknya kita mengerjakan sholat tepat pada waktunya dan yang lebih utama adalah pada awal waktu. Mendirikannya dengan berjamaah di masjid. Kita fahami dan tadabburi bacaan-bacaan yang ada di dalamnya. Dan dengan semampu kita menghadirkan kekhusyukan di dalam sholat kita. Allahu a’lam.


[1] HR. Bukhari 631

[2] HR. Muslim 622

From → Islamic Article

One Comment
  1. Reblogged this on tyatyaraa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 95 other followers

%d bloggers like this: