Skip to content

Renungan Ramadhan

July 25, 2010

Untuk Apa Kita Diciptakan?

Jawabannya tidak lain bisa adalah bisa Anda ditemukan dalam surat Adz Dzariyaat ayat 56.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)

“dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzariyaat: 56)

Hikmah pencipataan manusia dan jin adalah untuk beribada kepada Sllah Azza wa Jalla. Menurut imam Nawawi ini merupakan penjelasan yang sangat jelas dan tegas bahwa mereka, manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada Allah maka sepatutnya mereka berusaha menjadi seperti apa mereka diciptakan dan supaya mereka berpaling dari materi duniawi dengan zuhud. Karena dunia adalah sesuatu yang akan kancur.

Beribadah mempunyai makna yang sangat luas. Definisi yang sangat lengkap dari ibadah sebuah nama yang mencakup segala hal yang medatangkan cinta dan ridha Allah Azza wa Jalla berupa ucapan dan perbuatan baik lahir maupun batin. Mari kita renungkan betapa banyak nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita.

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ (٣٤)

“dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Ibrahim: 34)

Ayat ini diulang dalam An Nahl 18. Nikmat yang paling agung adalah Islam, nikmat iman, nikmat sunnah. Allah Azza wa Jalla telah menjadikan kita orang Islam, menjadikan kita beriman, dan menjadikan kita pengikut Nabi Muhammad SAW. Kita patut bersyukur kepada Allah agar Allah menambahkan nikmatNya kepada kita.Allah Memberikan Kita Umur Panjang, sehingga Sampai Pada Bulan Ramadhan yang Mulia.

Allah masih memberikan kita sisa-sia umur dan nafas, ini adalah kesempatan kita untuk membawa bekal. Sisa umur kita buat taat. Umur kita adalah modal yang sangat berharga untuk mengumpulkan bekal karena sebaik-baik bekal adalah taqwa. Karena perjalanan ini panjang menuju keabadian ke surga atau neraka. Mari manfaatkan kehidupan sebelum datang kematian, masa sehat sebleum sakit, masa luang sebelum masa sibuk, masa muda sebelum tua, kaya kita sebelum miskin kita.

Orang yang baik adalah orang yang umurnya panjang dan perbuatannya baik, sebaliknya orang yang buruk adalah bila umurnya panjang namun perbuatannya jelek. Sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim bahwa Abu Bakrah bercerita ada seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: “wahai Rasulullah, seperti apakah manusia yang baik itu?” Beliau menjawab: “orang yang baik itu orang yang umurnya panjang dan perbuatannya baik”, “lalu seperti apakah manusia yang buruk itu?” belaiau menjawab: “orang yang umurnya panjang dan buruk perbuatannya”.

Pentingnya Ikhlas

Segala amal perbuatan harus ikhlas, karena Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang ikhlas dan benar-benar mengharap wajah Allah. Mari kita perbaiki niat kita, karena orang tidak ikhlas percuma dia bersusah payan beramal namun ditolah oleh Allah. Dalam sebuah hadist qudsi disebutkan: barang siapa yang mengamalkan amalan lalu dia menyekutukan Aku di dalamnya dengan yang lain maka Aku tinggalkan dia dengan sekutunya.

Dalam sebuah hadist diceritakan tentang tiga kelompok yang pertama kali dibakar di neraka oleh Allah Azza wa Jalla. Pertama, adalah orang yang mengajarkan ilmu dan pandai membaca al Quran. Pada hari kiamat dia dipanggil dan disebutkan kepadanya nikmat-nikmat Allah lalu ditanya: “apa amalmu di dunia?”, dia menjawab: “aku mengajarkan ilmu karena Engkau yang Allah dan aku membaca Al Quran karena Engkau ya Allah.” Lalu dijawab: “kamu berdusta, akan tetapi kamu mengajarkan ilmu supaya kamu dikenal sebagai orang alim dan kamu membaca Al Quran supaya kamu dikenal sebagai orang yang qari’ (ahli baca Al Quran) dan kamu telah mendapatkan sebutan itu di dunia.” Kemudian wajahnya ditelungkupkan lalu dia diseret dan dilemparkan kedalam api neraka. Kedua, orang yang dulu di dunia dia dermawan. Pada hari kiamat ia dipanggil dan disebutkan kepadanya nikmat-nikmat Allah kepadanya, lalu ditanyakan “apa amalmu ketika di dunia dahulu?” dia menjawab: “ya Allah, aku shadaqah untuk mencari keridhoanMu”, lalu dikatakan kepadanya: “kamu berdusta, kamu dulu bershadaqah supaya dikenal sebagai orang yang dermawan dan kamu telah mendapatkan gelar itu di dunia.” Kemudian wajahnya ditelungkupkan lalu dia diseret dan dilemparkan kedalam api neraka. Ketiga, adalah orang yang berperang, berjihad fi sabilillah hingga dia mati syahid. Pada hari kiamat ia dipanggil dan disebutkan kepadanya nikmat-nikmat Allah kepadanya, lalu ditanyakan “apa amalmu ketika di dunia dahulu?” dia menjawab: “aku berperang dijalanMu ya Allah sehingga aku mati syahid”, kemudian dikatakan kepadanya: “kamu berdusta akan tetapi kamu dulu berperang agar dikatakan kamu orang yang pemberani dan kamu sudah mendapatkan gelar itu.” Kemudian wajahnya ditelungkupkan lalu dia diseret dan dilemparkan kedalam api neraka.

Sahabat Mu’awiyyah ra, kalau mendengar hadist tersebut beliau pingsan dan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menangis ketika membaca hadist tersebut. Itulah hasil dari amal yang tidak ikhlas dan hanya menginginkan dipuji, dilihat, dan didengar orang lain. Atau beramal hanya untuk mendapatkan kehidupan duniawi semata. Hal yang demikian akan membuat kita sangat menyesal. Di akhirat kita kelak akan diperintahkan untuk meminta pahala kepada orang-orang yang kita riya’ terhadap meraka, akan tetapi kita tidak akan pernah mendapatkan pahala dari mereka.

Ada kisah menarik tentang keikhlasan dari cicit Rasulullah SAW yang bernama Ali Zainul Abidin ibn Husain ibn Ali. Beliau adalah seorang yang senang membantu orang lain yang tidak mampu tetapi tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Kedermawanan beliau baru diketahui ketika beliau wafat. Saat jenazah beliau dimandikan didapati banyak ngapal (Jawa) berwarna hitam di punggung beliau. Orang-orang saling bertanya kenpa punggung beliau menjadi seperti itu, namun satupun di antara mereka tidak ada yang mengetahuinya. Beberapa hari kemudian setelah jenazah beliau dimakamkan, para faqir miskin dari pinggiran kota Madinah datang ke kota. Mereka mengatakan bahwa tidak ada lagi yang mengirimi makanan kepada mereka, padahal biasanya setiap malam ada yang mengirimi mereka makanan dengan menaruh bahan makanan di depan rumah mereka tetapi mereka tidak mengetahui siapakah yang mengirimi mereka makanan tersebut. Setelah itu baru diketahui bahwa yang memberikan makanan kepada mereka yang berjumlah sekitar 100 kepala keluarga adalah Ali Zainul Abidin dengan. Beliau memanggul karung berisikan bahan makanan untuk dibagikan kepada faqir miskin pada setiap malam hari tanpa sepengetahuan orang lain bahkan orang yang diberi. Inilah keikhlasan yang luar biasa, seorang yang dengan tangan kanannya mengeluarkan harta untuk dishadaqahkan namun tangan kirinya tidak mengetahui. Ini merupakan salah satu kisah teladan keikhlasan dari salafusshalih yang jika mereka selesai beramal mereka merenung apakah amal mereka diterima, mereka selalu merenungkan firman Allah dalam surat Al Maidah 27.

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (٢٧)

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (Al Maidah: 27)

Maksud dari ayat ini adalah kita harus introspeksi diri.

Banyak Berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla.

Allah memerintahkan kita untuk banyak-banyak berdzikir kepadaNya. Dalam surat al Ahzab 41-42 Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (٤١)وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا (٤٢)

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (al Ahzab: 41-42)

Terutama dzikir-dzikir muqoyyad; dzikir yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw bacaan dan waktu membacanya seperti dzikir setelah selesai sholat lima waktu, dzikir pagi dan petang, dzikir ketika akan tidur, dan dzikir lainnya.

Suatu ketika ada seorang sahabat mengadu kepada Rasulullah saw, “ya Rasulullah syariat Islam ini telah banyak kepadaku, maka berikanlah satu amalan yang bisa saya jadikan pegangan! Rasulullah saw menjawab: “yaitu hendaknya lisanmu selelau basah karena berdzikir kepada Allah”.

Ramadhan adalah Bulan Al Quran

Allah SWT berfirman

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ …(١٨٥)

“bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran…(Al Baqarah: 185)

Oleh karena itu, bila bulan Ramadhan menjelang para salafusshalih selalu membaca dan memperlajarinya. Amatlah banyak kebaikan-kebaikan yang berkaitan dengan Al Quran. Malaikat Jibril ketika Ramadhan datang kepada Nabi Muhammad saw untuk membacakan Al Quran dan pada tahun kewafatan Rasulullah, malaikat Jibril datang dua kali kepada Nabi Muhammad saw untuk membacakan Al Quran. Karena itu kita sebagai umat Islam sangat dianjurkan minimal bisa mengkhatankan Al Quran sekali selama bulan Ramadhan. Kita perbanyak membaca Al Quran dengan tartil dan tadabbur, juga dengan penuh penghayatan dan perenungan. Al Quran adalah pedoman dan jalan hidup, tidak akan sengsara orang yang menjadikan Al Quran sebagai pedoman hidupnya. Dewasa ini banyak masyarakat menginginkan dan mendambakan adanya kepuasan rohani dan spiritual, cara yang terbaik untuk menggapainya adalah melalui Al Quran.

Ramadhan, Kesempatan Berdakwah

Dakwah merupakan tugas para nabi dan rasul, serta orang-orang yang ingin memperbaiki. Ketika banyak orang kembali kepada Islam pada bulan Ramadhan, ketika jiwa-jiwa merasa haus, ketika hati-hati mulai terbuka ini merupakan kesempatan untuk berdakwah. Seandainya ada satu orang yang mendapatkan hidayah dari Allah SWT melalui kita maka berarti kita telah mendapatkan kebaikan yang sangat banyak. Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin Abi Thalib ra, “Demi Allah sekiranya Allah memberikan hidayah kepada satu orang melalui kamu itu lebih baik dari pada unta merah (harta yang melimpah)”  muttafaq ‘alaihi. Hasan al Bashri mengatakan berdakwah kepada Allah maqamnya lebih utama dari maqam orang yang sekedar ibadah untuk dirinya sendiri. Beribadah kepada Allah merupakan sesuatu yang baik namun berdakwah karena kemashlahatannya bisa menyentuh orang lain.

Hindari Majelis yang Sia-sia

Mari kita hindari mejelis yang sia-sia, tempat-tempat yang sia-sia yang membuang waktu cuma-cuma dan yang tidak berfaedah. Karena hanya akan menjerumuskan kita kepada murka Allah Azza wa Jalla. Hindari majelis yang isinya hanya ghibah (menggunjing orang lain), namimah (mengadu domba), berbohong, dan lainnya sehingga menyebabkan orang terjebak dalam perbuatan maksiat baik mulut, pendengaran dan lainnya. Justru sebaliknya kita seharusnya menghadiri majelis yang berfaedah guna menambah bekal kita, seperti majelis ilmu, pengajian, dzikir, dan lainnya. Perbanyaklah amal sholih karena waktu ini adalah modal kita janganlah dibuang dengan sia-sia. Rasulullah saw bersabda: “ada dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai terhadapnya, yaitu sehat dan waktu luang.”

Imam Ahmad meriwayatkan hadist tentang dua orang yang masuk Islam pada masa Rasulullah saw, salah satu dari keduanya mati syahid ketika berperang dan yang satunya meninggal satu tahun setelahnya. Sahabat Tholhah bin Ubaidillah ra, bermimpi bertemu dengan orang yang meninggal lebih akhir yang ternyata keadaannya lebih baik dari orang yang mati syahid. Sahabat Thalhah heran mengapa padahal orang yang pertama meninggal dalam keadaan syahid sedangkan yang kedua meninggal secara biasa hanya mempunyai tambahan usia satu tahun. Sampailah hal ini kepada Rasulullah saw, dan beliau bersabda “bukankah orang ini masih sempat puasa Ramadhan dan melakukan sholat serta amalan shalih lainnya?”. Jadi, orang kedua oleh Allah diberikan waktu luang selama setahun yang dimanfaatkan untuk beribadah kepada Allah secara maksimal sehingga derajatnya bisa mengalahkan orang pertama yang mati syahid. Dari hadist ini kita bisa mengambil hikmah bahwa waktu merupakan sesuatu yang amat sangat berharga yang merupakan modal besar kita untuk menuju Allah Azza wa Jalla, maka janganlah kita sekali-kali menyia-nyiakannya.

Jadikan Ramadhan Momentum untuk Memperbaiki Diri dan Orang Lain

Yang lebih utama kita berusaha untuk memperbaiki diri kemudian memperbaiki orang-orang di sekitar kita. Allah berfirman dalam surat At Tahrim ayat 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (٦)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At Tahrim: 6)

Mari jadikan Ramadhan ini untuk memperbaiki diri kita. Perbaiki hubungan kita dengan Allah, Rasulullah, hubungan kita dengan keluarga, sanak famili dan kerabat serta masyarakat agar kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Inilah renungan untuk kita semua pada awal Ramadhan. Janganlah sia-siakan kesempatan ini karena boleh jadi Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terakhir bagi kita. Mari kita beramal semaksimal mungkin dan mudah-mudahan Allah menerima segala amal ibadah kita. Aamiin ya robbal ‘aalamiin.

Ditranskrip dan diolah dari kajian Renungan Awal Ramadhan 1428 H, oleh: Ustadz Abdullah Shaleh Al Hadramy

From → Ramadhan

2 Comments
  1. din nek moco nang blog-mu ak rodo ngelu, bahasane ojo abot2,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 100 other followers

%d bloggers like this: